
Mentan dorong tiga straregi jitu wujudkan swasembada gula pada 2027

Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan tiga langkah strategis yang bisa dilakukan pemerintah agar Indonesia bisa mewujudkan swasembada komoditas gula pada 2027.
"Tiga strategi utama pemerintah yang dijalankan yakni, bongkar ratoon, pengendalian impor melalui kebijakan Lartas (larangan dan pembatasan), serta revitalisasi industri gula nasional," kata usai Mentan usai mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu.
Pemerintah bergerak cepat membenahi tata kelola komoditas gula nasional yang selama ini menghadapi tekanan dari sisi hulu hingga hilir. Tak hanya soal rendahnya produktivitas, persoalan distribusi dan tata niaga yang tidak sehat juga menjadi sorotan serius.
Ia menekankan hal itu sebagai bagian dari upaya besar pemerintah memperkuat ketahanan pangan sekaligus melindungi petani tebu dalam negeri.
Di sektor hulu, pemerintah memulai dari persoalan paling mendasar, yakni kondisi tanaman tebu yang sudah tidak produktif. Berdasarkan evaluasi nasional, sebagian besar tanaman tebu saat ini telah melewati usia optimal dan tidak lagi mampu menghasilkan secara maksimal.
Dia menjelaskan setelah pihaknya melakukan evaluasi tahun 2025 sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Pertanian menemukan 70-80 persen lahan tebu tidak layak, karena memasuki usia tua. Hal itu berdampak pada tidak produktifnya tebu tersebut.
"Kami mengecek tebu-tebu kita seluruh Indonesia, 70-80 persen itu tidak layak. Sehingga kita lakukan bongkar ratoon. Dan Bapak Presiden meminta kami untuk membantu petani-petani tebu Indonesia. Kami langsung anggarkan Rp1,7 triliun di 2025, kita lanjutkan di 2026,” ujar Mentan.
Dari total sekitar 500 ribu hektare lahan tebu nasional, lebih dari 300 ribu hektare merupakan tanaman lama yang menjadi penghambat utama peningkatan produksi.
“Rencana kami bongkar ratoon karena 300 ribu lebih dari 500 ribu hektare itu tanaman lama. Tidak mungkin produksinya bisa naik. Sehingga petani tidak bisa untung,” jelasnya.
Sebagai bentuk keberpihakan kepada petani, pemerintah memberikan subsidi untuk program bongkar ratoon dengan target 100 ribu hektare per tahun selama tiga tahun ke depan.
Pembenahan tidak berhenti di hulu. Di sektor hilir, pemerintah juga menyoroti anomali tata niaga gula yang dinilai merugikan petani dan industri dalam negeri. Di tengah kebutuhan impor, gula lokal justru sulit terserap pasar.
“Yang kedua, yang juga seperti anomali. Satu sisi kita impor gula, tetapi anehnya gula kita tidak bisa laku. Molase kita tidak bisa laku. Dulu harganya molase itu Rp1.900 per liter, Maret 2026 turun sampai Rp1.000. Ada apa? Kemudian gula tidak bisa laku,” tegas Amran.
Kondisi itu bahkan berdampak langsung terhadap kinerja badan usaha milik negara (BUMN) sektor gula. Bahkan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) mencatat kerugian sekitar Rp600 miliar.
"Jadi harusnya semua gula PTPN laku. Tetapi tidak bisa laku. Kenapa? Ada rembesan gula rafinasi,” tegasnya.
Pemerintah pun menemukan adanya praktik penyimpangan distribusi gula rafinasi yang masuk ke pasar konsumsi sebagai gula putih, yang seharusnya diperuntukkan bagi industri.
“Rembesannya kita tangkap di Jawa Tengah, kemudian Kalimantan Selatan, dan beberapa daerah lainnya, rembesan gula rafinasi tetapi dikategorikan dimasukkan ke pasar sebagai white sugar, gula konsumsi. Ini membahayakan,” beber Amran.
Sebagai respons tegas, lanjut Mentan, Presiden telah menginstruksikan penerapan kebijakan Larangan dan Pembatasan (Lartas) untuk mengendalikan arus gula dan menutup celah penyimpangan tersebut.
“Sehingga solusinya adalah Bapak Presiden perintahkan Lartas, larangan terbatas. Dan itu sudah terbit. Jadi sudah ada dua solusi ini. Karena ini satu kesatuan. Kita harus memberi batasan,” ujar Mentan.
Mentan juga menekankan pentingnya keterlibatan BUMN dalam pengendalian distribusi agar sistem pengawasan berjalan lebih efektif.
“Dan kami minta agar BUMN ikut di dalamnya. Supaya bisa dikontrol,” imbuhnya.
Sebagai strategi ketiga, pemerintah menyiapkan revitalisasi besar-besaran industri gula nasional untuk memperkuat ekosistem dari hulu hingga hilir secara berkelanjutan.
“Terakhir adalah kita akan melakukan revitalisasi besar-besaran ke depan. Jadi itu solusi. Dan kita ini tidak bisa sendirian. Ini perlu kolaborasi,” ujarnya.
Dengan kombinasi tiga strategi tersebut, Mentan optimistis Indonesia dapat segera mencapai swasembada gula konsumsi dalam waktu dekat.
“Kita perbaiki tanaman. Itu mutlak. Tiga tahun berturut-turut. Dan kalau kita lakukan, insya Allah white sugar, swasembada paling lambat tahun depan,” tegasnya.
Lebih lanjut Amran mengatakan kebutuhan gula nasional saat ini mencapai 6,7 juta ton, terdiri dari 2,8 juta ton gula konsumsi dan 3,9 juta ton gula industri. Dengan produksi gula kristal putih sekitar 2,67 juta ton dari luas areal 563 ribu hektare, masih dibutuhkan tambahan signifikan untuk mencapai kemandirian penuh.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Mentan dorong tiga straregi jitu wujudkan swasembada gula pada 2027
Pewarta : Muhammad Harianto
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
