Logo Header Antaranews Jogja

UIN Yogyakarta sebagai tuan rumah penyelenggaraan FORDIPAS dan INCOILS 2025

Sabtu, 22 November 2025 15:44 WIB
Image Print
Silaknas Forum Direktur Pascasarjana Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) atau FORDIPAS, dan The 5th International Conference on Islam, Law, and Society (INCOILS) pada 21-23 November 2025 di Yogyakarta. ANTARA/Hery Sidik

Yogyakarta (ANTARA) - Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai tuan rumah penyelenggaraan Silaknas Forum Direktur Pascasarjana Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) atau FORDIPAS, dan The 5th International Conference on Islam, Law, and Society (INCOILS) pada 21-23 November 2025.

Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Moch. Nur Ichwan dalam keterangannya di Yogyakarta, Sabtu, mengatakan Silaknas FORDIPAS merupakan agenda penting untuk menjaga jejaring dan sinergi antardirektur Pascasarjana PTKIN se-Indonesia.

"Sedangkan INCOILS merupakan wadah penting untuk mengonsolidasikan kekuatan akademik kita, memperkuat tradisi riset, dan menghadirkan kontribusi intelektual yang relevan bagi masyarakat luas," katanya.

Menurut dia, dengan terselenggaranya INCOILS 2025 di Yogyakarta, Indonesia kembali menegaskan perannya sebagai pusat kajian Islam modern yang mengedepankan keberlanjutan, kemanusiaan, dan integrasi-interkoneksi pengetahuan.

"Konferensi ini diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis dan memperkuat kolaborasi jangka panjang dalam menjawab tantangan kemanusiaan dan ekologis kontemporer," katanya.

Sementara itu, Ketua FORDIPAS Prof Akhyak mengatakan, bahwa INCOILS merupakan komitmen bersama untuk memperkuat jejaring ilmiah Program Pascasarjana PTKIN.

"Setiap gagasan yang lahir dari FORDIPAS dan INCOILS adalah ikhtiar untuk merawat nilai, memperluas pemahaman, dan meneguhkan peradaban," katanya.

Menurut dia, pada pelaksanaan 2025, konferensi tersebut mengambil tema besar yaitu "Religion, Law, and Environmental Sustainability", INCOILS 2025 menyoroti hubungan timbal balik antara agama, hukum, dan keberlanjutan lingkungan dalam merespons tantangan global.

"Tema ini merefleksikan kegelisahan akademisi Muslim atas krisis ekologis, perubahan sosial, dinamika politik internasional, dan kebutuhan akan paradigma keilmuan yang lebih integratif dan transformatif," katanya.

Menurut dia, setidaknya ada 10 panel yang mendiskusikan isu lingkungan berkelanjutan dari berbagai perspektif seperti ekoteologi, studi al-Qur’an dan hadis, hukum Islam, psikologi, sosiologi, ekonomi, linguistik, dan pendidikan.

"Sebagai forum ilmiah tahunan, INCOILS bertujuan memperkuat ekosistem akademik nasional, meningkatkan reputasi riset, dan memperluas kolaborasi ilmu antar-PTKIN dan mitra internasional. Tahun ini, ada penghargaan bagi sepuluh makalah terbaik dan sebagai bentuk diseminasi hasil penelitian," katanya.



Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026