
Obsesi mengidolakan seseorang bisa ganggu keseimbangan hidup

Jakarta (ANTARA) - Psikolog lulusan Universitas Indonesia Teresa Indira Andani, M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa menjadi obsesi dalam mengidolakan seseorang bisa muncul perilaku yang mengganggu keseimbangan hidup.
"Dalam psikologi, ketika kekaguman berubah menjadi obsesi, bisa muncul pola perilaku yang mengganggu keseimbangan hidup atau relasi sosial," ujar Teresa, ketika dihubungi ANTARA di Jakarta, pada Kamis.
Menurut psikolog yang saat ini berpraktik di Vajra Gandaria Jakarta itu tanda peringatan yang bisa menjadi refleksi bahwa dalam mengidolakan seseorang sudah berdampak negatif, seperti mengabaikan tanggung jawab pribadi demi mengikuti semua aktivitas idola.
Baca juga: Pasien thalasemia minor tak miliki pantangan makanan
"Merasa marah, cemburu, atau tersinggung jika idola tidak merespons ekspektasi penggemar (misalnya tidak menyapa, tidak membalas)," kata dia.
Teresa mengatakan bahwa ekspresi rasa senang saat bertemu idola merupakan hal yang sangat manusiawi. Apabila ditinjau dari sudut pandang psikologi sosial, ada yang namanya parasocial relationship yaitu hubungan satu arah yang terbentuk antara seseorang dan figur publik.
"Hubungan ini bisa terasa sangat nyata secara emosional bagi penggemar, padahal tidak bersifat timbal balik," ungkap dia.
Meski secara emosional kita merasa "kedekatan" dengan figur publik, namun penting untuk diingat bahwa mereka belum tentu mengenal kita secara pribadi. Menyadari bahwa seseorang yang diidolakan juga manusia biasa yang punya hak atas ruang dan kenyamanan pribadi.
Baca juga: "Mungkin Kita Perlu Waktu" kisahkan kerugian pola asuh narsistik
Oleh karena itu, dalam mengekspresikan rasa kagum dilakukan secara bijak dan mengedepankan empati dengan tetap menghormati batasan, baik dalam hal interaksi fisik maupun perasaan.
Dia menyampaikan dalam bertemu seseorang, orang bisa melakukannya secara bijak seperti menyapa dengan sopan, tersenyum, atau mengungkapkan rasa kagum lewat kata-kata yang positif. Tidak memaksakan interaksi, apalagi dalam situasi yang tidak nyaman atau tidak aman bagi idola tersebut.
"Jika ingin meminta foto atau tanda tangan, lakukan dengan izin terlebih dahulu. Jika ditolak, kita bisa memilih untuk memahami idola kita mungkin sedang ada halangan untuk melakukan hal tersebut (lelah atau memang aturannya tidak boleh dan lain sebagainya)," ujar dia.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Waspadai obsesi terhadap idola bisa ganggu keseimbangan hidup
Pewarta : Sri Dewi Larasati
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
