
Badan Bahasa berkolaborasi dengan pemda-guru-pemuda revitalisasi bahasa daerah

Jakarta (ANTARA) - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikdasmen terus menjalankan Program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) dengan fokus berkolaborasi bersama pemerintah daerah, guru dan generasi muda guna mendukung keberlanjutan bahasa daerah yang berstatus rentan, terancam punah hingga kritis.
Kepala Badan Bahasa Kemendikdasmen Hafidz Muksin mengatakan hingga 2025, revitalisasi telah dilakukan terhadap 120 bahasa daerah di 38 provinsi melalui kolaborasi pemerintah pusat, daerah, satuan pendidikan, dan masyarakat sebagai wujud komitmen menjaga keberlanjutan bahasa dan identitas bangsa.
“Ini menjadi tanggung jawab kita bersama agar bahasa daerah tetap hidup dan digunakan oleh generasi muda,” kata Hafidz di Jakarta pada Kamis.
Ia menegaskan bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan yang menghubungkan hati, menghidupkan sejarah, serta membawa nilai budaya dan karakter bangsa.
“Ketika sebuah bahasa daerah hilang, maka hilang pula sebagian jati diri kita,” tegasnya.
Senada dengan pernyataan tersebut, Ketua Harian KNIU Ananto Kusuma Seta mengingatkan sejarah lahirnya peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional yang berakar dari perjuangan bahasa di Bangladesh.
Ia menegaskan pemuda merupakan pencipta bersama pendidikan masa depan. Bahasa ibu merupakan fondasi literasi dan pendidikan multibahasa.
“Bahasa ibu memuat tata krama dan nilai-nilai kemanusiaan. Bahasa daerah menguatkan bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa. Di saat yang sama, generasi muda juga perlu menguasai bahasa asing untuk berdaya saing global tanpa kehilangan identitas nasional,” ujarnya.
Perwakilan UNESCO Indonesia Gunawan Zakki menambahkan pentingnya peran generasi muda dalam pelestarian bahasa daerah.
Menurutnya, pemuda memiliki kemampuan berbagi, berjejaring, dan berkreasi, termasuk melalui konten digital yang dapat menyisipkan bahasa daerah.
Pada kesempatan berbeda, Bupati Kabupaten Sumba Timur Umbu Lili menyampaikan rendahnya literasi menjadi salah satu faktor tingginya angka putus sekolah saat transisi dari SD ke SMP.
Melalui kerja sama dengan (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) INOVASI, Pemerintah Daerah memiliki kebijakan melalui pembelajaran di kelas awal dengan menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar.
“Hasilnya signifikan. Anak-anak yang sebelumnya belum lancar membaca kini menunjukkan peningkatan kemampuan literasi. Karena itu, kami menginstruksikan penggunaan bahasa daerah di kelas awal dengan dukungan guru senior yang menguasai bahasa setempat,” ujarnya.
Praktik baik serupa disampaikan pula oleh Kepala SDN Aebowo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur Maria Ugha yang menyampaikan bahwa mayoritas peserta didik kelas awal belum memahami bahasa Indonesia karena sehari-hari menggunakan bahasa ibu.
Ketika pembelajaran menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, siswa tidak merespons, merasa stress dan mengalami kesulitan memahami materi.
Kondisi tersebut mendorong sekolah melakukan penyesuaian dengan menjadikan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar di kelas awal.
Melalui pelatihan bersama INOVASI, guru sebagai fasilitator diberikan pendampingan dalam menerapkan strategi pembelajaran berbahasa daerah di kelas awal dengan metode bermain, bernyanyi, penggunaan kartu huruf, membaca gambar, hingga menulis secara bertahap.
Hasilnya, suasana kelas menjadi lebih aktif dan menyenangkan serta kemampuan literasi dasar siswa meningkat.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kolaborasi Pemda, guru, dan pemuda revitalisasi bahasa daerah
Pewarta : Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
