
Belajar di sekolah berfilosofi semut

Jika bicara fasilitas, semua lembaga atau yayasan yang berkelebihan uang akan dengan mudah menyediakan apapun untuk mempercantik brosur pemikat calon orang tua siswa baru. Yang berbeda adalah nilai-nilai yang ditanamkan, selalu dipupuk, dirawat, hingga kelak menjadi kokoh.
Di Semut-Semut, anak-anak dibiarkan berkembang sehebat-hebatnya, terbang setinggi-tingginya, tapi memastikan kaki mereka tetap menjejak pada dua pijakan: Islam dan Indonesia. Meski bukan sekolah dengan label Islam Terpadu (IT), nilai-nilai Islam yang membawa aturan kebaikan dalam seluruh perkara kehidupan manusia diterapkan di sini.
Nama Semut-Semut diambil dari satu surat dalam Al Quran, An-Naml, dengan segala filosofi serangga berkaki enam yang meliputi kecerdasan, nalar, perencanaan, organisasi sosial, gotong royong, dan sistem komunikasi yang memungkinkan mereka memberi peringatan agar tidak terinjak oleh pasukan Nabi Sulaiman.
Baca juga: BGN tegaskan tak ada penutupan kantin sekolah karena MBG
Secanggih apapun generasi alpha mahir mengoperasikan aplikasi di gawai dan komputernya, guru-guru tetap membumikan permainan benteng, boy-boyan, lompat karet, congklak, gobak sodor, dan apapun itu namanya serta dari mana asal daerahnya.
Jika saja tawa itu berbentuk padat ketika keluar dari mulut guru dan murid, "ha-ha-ha" akan berserakan di tiap kelas, selasar, lapangan basket, kebun tengah, kantin, gerbang sekolah, bertumpuk-tumpuk.
Area fasilitas sekolah yang menjadi satu antara sekolah dasar dan taman kanak-kanak membuat siswa tiap jenjang saling menghormati dan menyayangi. Adik kelas selalu memanggil "Kak" pada yang lebih tua, dan kakak kelas mendampingi adik-adiknya dengan panggilan "Dek". Untuk beberapa anak, perbedaan usia bukan jadi penyekat persahabatan di antara mereka.
Sekolah inklusi yang memberi ruang pada anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan teman lainnya, adalah praktik tenggang rasa dari pelajaran di buku sekolah. Anak-anak belajar untuk tidak membedakan apalagi merundung teman spesial mereka, melainkan mendampingi, membantu, dan terbiasa memberikan apresiasi kecil yang terasa besar bagi siswa inklusi.
"Happy Teacher, Cheerfull Kids" moto sekolah itu. Guru-guru di Semut-Semut sepertinya memang memiliki panggilan dalam hatinya masing-masing untuk mengajar. Tidak hanya sebatas bekerja untuk memenuhi kecukupan hidup.
Guru di Semut-Semut seperti kakak, atau orang tua bagi muridnya. Bagi orang tua siswa, guru seperti rekanan yang sama-sama berusaha mendidik sebagaimana anak menjadi tanggung jawab yang akan diperhitungkan kelak di akhirat.
Tiap liburan yang terlalu panjang, guru-guru itu merindu muridnya. Bahkan, salah seorang guru menangis ketika hari terakhir mengajar di kelas pada akhir tahun ajaran. Hari Guru adalah sebuah hari raya di sekolah Semut-Semut. Ucapan terima kasih dan apresiasi tidak reda disampaikan oleh para orang tua murid yang bergerombol masuk ke area sekolah untuk merayakan kepada setiap pengajar, "Hari ini adalah hari besarmu!"
Baca juga: Mendikdasmen ingatkan calon kepala sekolah pentingnya pemimpin melayani
Begitu hangat? Ya. Karena itulah anak-anak tidak pernah malas-malasan berangkat sekolah. Orang tua begitu antusias ketika terlibat dalam proses pembelajaran anak di sekolah.
Karena, "seleksi" dari sekolah ini yang membentuk sifat yang sama, yang dominan, yang paling banyak muncul, haruslah kebaikan.
Prime Principal Yayasan Semut Beriring Arfi Destianti akan mewawancara orang tua calon murid yang ingin menyekolahkan anaknya di Semut-Semut. Tujuannya hanya satu: menyamakan visi sekolah dengan visi orang tua. Agar orang tua tidak berpandangan bahwa dengan menyerahkan anak dan membayar biaya sekolah telah menyelesaikan tugasnya untuk mendidik, lalu menuntut keturunannya menjadi pintar dan berbudi luhur setelahnya.
Karena, sekolah hanya melanjutkan apa yang telah dimulai di rumah. Guru memupuk dan merawat, tapi benih bibitnya berasal dari yang ditanam sejak kecil oleh keluarga.
Nilai dan karakter tidak serta merta lahir di ruang kelas, melainkan tumbuh dari percakapan, kebiasaan, dan kasih yang pertama kali diajarkan di rumah. Sekolah adalah tempat menuntut ilmu, guru yang mengajarkan pengetahuan, tapi hanya orang tua yang bisa menanamkan arah ke mana anak tumbuh bergerak.
Baca juga: Ketua Banggar DPR mengsulkan agar kantin sekolah direhab dan dijadikan dapur MBG
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Belajar di sekolah berfilosofi semut
Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
