Logo Header Antaranews Jogja

Trump, lawatan Teluk dan genosida Gaza: menimbang stabilitas dan ambisi

Kamis, 15 Mei 2025 06:47 WIB
Image Print
Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Xinhua

Jakarta (ANTARA) - Hamparan karpet berwarna lavender tampak mencolok menyambut kedatangan Presiden AS Donald Trump di Riyadh, Arab Saudi, Selasa (13/5).

BBC mengemukakan bahwa Arab Saudi telah mengubah warna karpet penyambutan mereka dari merah menjadi lavender sejak tahun 2021, dengan alasan bahwa warna baru itu terinspirasi dari warisan alamiah negara tersebut.

Namun, BBC juga mencatat bahwa bukan itu saja perbedaan dalam penyambutan Trump bila dibandingkan dengan pendahulunya, Joe Biden.

Bila dahulu Biden--yang pernah berucap akan membuat Negara Kerajaan itu sebagai "paria"--hanya disambut tim delegasi yang dikirim Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, maka Trump  disambut secara langsung oleh sosok Sang Putra Mahkota Saudi itu sendiri saat turun dari pesawat kepresidenan.

Agenda Trump dalam kunjungan ke kawasan Timur Tengah tentu saja tidak hanya Arab Saudi, tetapi juga sejumlah negara lainnya yaitu Qatar dan Uni Emirat Arab. Lawatan ini merupakan kunjungan ke luar negeri kedua oleh Trump di masa periode kepresidenan keduanya, setelah melayat prosesi pemakaman Paus Fransiskus di Roma,  April.

Pada masa periode kepresidenan pertamanya, Trump pertama kali melaksanakan lawatan luar negeri dengan mengunjungi Arab Saudi, mengubah tradisi di mana presiden AS sebelumnya biasanya mengunjungi Inggris Raya, Kanada, atau Meksiko sebagai negara pertama yang dikunjungi.

Sedangkan di Timur Tengah kali ini, Aljazeera melaporkan bahwa Trump memiliki tujuan mengamankan kesepakatan ekonomi berskala besar serta membuat kemajuan di bidang diplomasi terhadap sejumlah isu yang terkait erat dengan kawasan tersebut, seperti gencatan senjata Gaza dan normalisasi hubungan Saudi-Israel.

Namun, tujuan yang berfokus kepada bisnis dan investasi tampaknya lebih kentara terlebih mengingat kondisi perekonomian AS yang saat ini dilaporkan sejumlah media dalam keadaan memburuk, antara lain penurunan hasil PDB pada kuartal pertama 2025, yang pertama kalinya terjadi sejak tiga tahun lalu.

Di lokasi lawatannya yang pertama, yaitu Arab Saudi, Trump menghadiri KTT bisnis Saudi-AS yang dihadiri sejumlah pengusaha-miliarder dari Negeri Paman Sam, seperti Mark Zuckerberg, Larry Fink, Elon Musk, dan Sam Altman.

Setelah dari Saudi, Trump dijadwalkan berkunjung ke Qatar pada Rabu (14/5) serta akan mengakhiri kunjungan ke Uni Emirat Arab pada Kamis (15/5).

Baca juga: Rupiah diperkirakan menguat seiring harapan kesepakatan China dengan AS


Investasi di AS-Keamanan Teluk

Peneliti kebijakan Timur Tengah Institut Internasional untuk Studi Strategis di Bahrain, Hasan Alhasan, menyatakan kepada CNN bahwa negara-negara Teluk memenuhi kriteria yang tepat bagi Trump, yaitu komitmen untuk menginvestasikan triliunan dolar dalam ekonomi AS serta membeli banyak sistem persenjataan AS.

Masih dari CNN, komentator politik ekonomi Arab Saudi, Ali Shihabi, menuturkan bahwa hal yang paling dicari negara-negara Teluk adalah "keamanan, keamanan, dan keamanan", dalam artian bahwa pemerintah di kawasan tersebut akan berupaya agar AS memastikan komitmen menjaga keamanan dan stabilitas Teluk.

Salah satu contoh yang paling nyata dari timbal balik tersebut adalah penandatanganan resmi kesepakatan penjualan senjata senilai 142 miliar dolar AS (Rp2,35 kuadriliun) antara AS dan Arab Saudi, di tengah kunjungan Presiden AS Donald Trump ke negara tersebut.

Pernyataan dari Gedung Putih, Selasa, menyebutkan bahwa kesepakatan itu membuka akses bagi Arab Saudi terhadap peralatan pertahanan tercanggih dan layanan dari belasan firma pertahanan AS, yang akan membolehkan AS memasok peralatan untuk memperkuat kapabilitas angkatan udara dan antariksa serta pertahanan udara dan rudal Arab Saudi.

Gedung Putih juga menyatakan bahwa kesepakatan itu akan menguntungkan Arab Saudi antara lain dengan penguatan keamanan maritim dan pesisir, keamanan perbatasan, serta pembaruan sistem informasi dan komunikasi.

Tentu saja, tidak semuanya terkait murni dengan kesepakatan bisnis, karena Trump di Arab Saudi juga ternyata bertemu dengan Presiden Suriah, Ahmed Al-Sharaa. Trump juga telah mengumumkan pencabutan sanksi AS terhadap Suriah, yang menandakan potensi reintegrasi Suriah sepenuhnya ke dalam sistem global.

Namun, meski langkah normalisasi itu didukung oleh Arab Saudi dan Turki, tetapi di saat yang bersamaan dikritik oleh Iran dan Israel, di mana pemimpin Negeri Zionis itu, Benjamin Netanyahu menyatakan ketidaksetujuannya karena adanya kekhawatiran keamanan.





COPYRIGHT © ANTARA 2026