
Pelatih sebut bola mati jadi titik lemah PSIM

Bandarlampung (ANTARA) - Pelatih PSIM Yogyakarta Jean-Paul Van Gastel menyatakan bola mati menjadi masalah timnya ketika balik dikalahkan 1-2 oleh Bhayangkara Presisi Lampung FC padahal sudah unggul 1-0.
"Kami sebenarnya mengawali pertandingan dengan baik, tapi babak kedua terjadi masalah dengan bola mati," kata Van Gastel di Bandarlampung, Jumat.
Menurut dia, PSIM telah bermain sesuai dengan polanya bahkan menemukan gol pada menit awal serta menciptakan sejumlah peluang emas pada babak pertama.
"Gol kedua Bhayangkara itu murni kesalahan pemain belakang yang tidak baik dalam mengawal lawan," kata Van Gastel.
Ia mengatakan ketinggian satu gol dari tuan rumah, PSIM berusaha all out dengan risiko menghadapi tekanan balik dari Bhayangkara.
"Namun kami berhasil menjaga pertahanan kami agar tidak kemasukan gol tambahan, tapi hasilnya juga pun tidak berubah. Tentu kami kecewa atas hasil ini," katanya.
Pemain PSIM Reva Adi menilai timnya berhasil mengatasi tekanan pada babak pertama dengan sangat baik sampai bisa menciptakan gol.
"Namun seperti yang pelatih katakan kami kecolongan lewat bola mati. Mungkin ini yang harus dievaluasi dan menjadi fokus kami agar lebih baik lagi di pertandingan berikutnya," kata dia.
Kemenangan ini membuat Bhayangkara naik ke posisi 4 klasemen Super League dengan 47 poin dari 28 pertandingan, sementara PSIM tertahan di posisi kesembilan dengan 38 poin.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pelatih sebut bola mati jadi titik lemah PSIM
Pewarta : Dian Hadiyatna
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
