Logo Header Antaranews Sumsel

Di balik turunnya angka pengangguran di Indonesia

Minggu, 8 Februari 2026 13:33 WIB
Image Print
Ilustrasi. Sejumlah pekerja menyelesaikan proses pengemasan produk. (ANTARA FOTO/Makna Zaezar/bar)

Jakarta (ANTARA) - Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) November 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah angkatan kerja di Indonesia mencapai 155,27 juta orang.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 147,91 juta orang telah bekerja, sementara 7,35 juta orang masih berstatus pengangguran.

Jumlah pengangguran itu turun sekitar 109 ribu orang dibandingkan Agustus 2025. Penurunan tersebut sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk bekerja yang naik 1,37 juta orang dalam periode yang sama.

Data ini mencerminkan membaiknya kondisi pasar tenaga kerja nasional di tengah proses pemulihan ekonomi.

Dalam struktur penyerapan tenaga kerja, terdapat tiga sektor utama yang masih menjadi tulang punggung, yakni pertanian, kehutanan, dan perikanan; perdagangan; dan industri pengolahan.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyerap 27,99 persen tenaga kerja, diikuti perdagangan sebesar 18,67 persen, serta industri pengolahan sebesar 13,86 persen. Ketiganya menyumbang lebih dari 60 persen total tenaga kerja nasional.

Dibandingkan Agustus 2025, serapan tenaga kerja sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan pada November 2025 bertambah 161 ribu orang.

Sektor perdagangan mencatatkan kenaikan sebesar 168 ribu orang, sementara sektor industri pengolahan mengalami peningkatan tertinggi di antara ketiganya, yakni 196 ribu orang.

Selain tiga sektor tersebut, BPS juga mencatat lonjakan signifikan pada sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang naik 381 ribu orang.

Peningkatan ini menjadi yang terbesar di antara seluruh lapangan usaha dan mengindikasikan mulai pulihnya aktivitas pariwisata, perhotelan, serta usaha kuliner.

Meski demikian, dominasi sektor pertanian dalam struktur ketenagakerjaan nasional tetap mencerminkan bahwa transformasi ekonomi Indonesia masih berlangsung secara bertahap.

Sektor pertanian selama ini dikenal memiliki produktivitas dan tingkat upah relatif rendah, sekaligus kerap menjadi bantalan sosial ketika sektor lain melambat.

Tingginya penyerapan tenaga kerja di sektor ini mengindikasikan bahwa sebagian besar penduduk masih menggantungkan mata pencaharian pada lapangan kerja dengan nilai tambah terbatas.

Dari sisi status pekerjaan, BPS mencatat sebanyak 38,81 persen penduduk bekerja berstatus sebagai buruh, karyawan, atau pegawai.

Sementara itu, jumlah penduduk bekerja pada kegiatan formal tercatat mencapai 62,57 juta orang atau 42,30 persen dari total pekerja, naik tipis 0,10 persen poin dibandingkan Agustus 2025.

Sebaliknya, penduduk bekerja di sektor informal masih mendominasi dengan jumlah mencapai 85,35 juta orang atau 57,70 persen dari total pekerja.



Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026