
BKKBN Sumsel rangkul bidan promosikan "implan"

Palembang (Antara Sumsel) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Provinsi Sumatera Selatan merangkul bidan sebagai tenaga medis yang berhubungan langsung dengan masyarakat, mempromosikan alat kontrasepsi "implan", dan 'Intra Uterine Device' dalam mengejar target kesimbangan jumlah penduduk tahun 2015.
"Harus diakui bidan menjadi ujung tombak pelayan kesehatan dan Keluarga Berencana, khususnya di pedesaan. Peran strategis ini yang diberdayakan BKKBN dalam mengejar target Millennium Development Goals (MDGs), serta membenahi hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012," kata Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Kelurga Berencana (BKKBN) Sumsel Sri Rahayu di Palembang, Rabu.
Seusai membuka secara resmi "Pelatihan Insersi (pelekatan) Implan dan IUD (Intra Uterine Device) pada bidan se-kabupaten/kota", ia mengemukakan, pihaknya tak hanya memberikan pelatihan teknis tapi juga melakukan pendekatan secara emosional agar para tenaga medis itu berkerja dengan sepenuh hati dalam melayani masyarakat.
Hal itu lantaran, pemerintah memberikan bantuan secara cuma-cuma alat kontrasepsi jangka panjang yakni "implan" dan "IUD" kepada masyarakat, serta pembebasan biaya pemasangan pada pelayanan bidan pemerintah.
Ia menambahkan, pendekatan ini juga dilatarbelakangi keterbatasan anggaran dan jumlah tenaga medis yang dimiliki pemerintah, serta pengurangan secara drastis tenaga lapangan KB setelah otonomi daerah diterapkan.
"Intinya BKKBN tidak bisa bekerja sendiri dan membutuhkan berbagai pihak karena permasalahan kependudukan ini menjadi tanggung jawab bersama dan tidak bisa disepelekan. Karena, jika meleset satu persen saja dari target kepersertaan KB, maka dampaknya akan sangat terasa pada satu dekade kemudian bagi kehidupan berbangsa dan bernegara," ujarnya.
Semangatkan Pemakaian Implan dan IUD
Sementara ini, Sumsel memiliki 2.265 orang bidan berlabel pemerintah yang tersebar di seluruh kabupaten/kota.
Sebanyak ribuan tenaga medis itu telah mendapatkan pelatihan insersi implan dan IUDsejak tahun 2012 yang terbagi dalam belasan angkatan.
BKKBN Sumsel sendiri memulai angkatan pertama tahun ini dengan menyelenggarakan pelatihan bagi 20 orang bidan, 26 Maret-4 April 2013, di Palembang.
"Pelatihan ini merupakan lanjutan program 2012 dan tahun ini ditargetkan seluruh bidan di Sumsel mengikutinya, karena mereka diarahkan tak hanya bertindak sebagai tenaga medis tapi juga pemberi penyuluhan kepada masyarakat mengenai alat kontrasepsi yang sebaiknya dipilih," kata Sri.
Pemerintah berharap tenaga medis itu aktif dalam mempromosikan pemakaian alat kontrasepsi jangka panjang "implan" dan "IUD" karena lebih efektif dan efisien dibandingkan penggunaan suntikan dan pil.
Implan (memasukkan dua batang silastik implan di bawah kulit) memiliki keunikan yakni lebih mudah digunakan karena hanya membutuhkan sekali untuk pemasangan, harganya sangat ekonomis, serta sangat baik bagi pasangan suami istri yang merencanakan atau memberi jarak pada kehamilan, dan bekerja secara efektif selama empat tahun.
Sementara, "IUD" (alat kontrasepsi yang dipasang dalam rahim berbentuk batang plastik berbentuk T) mampu mencegah kehamilan selama 10 tahun dalam sekali pemakaian.
Pada tahun 2013 ini, pihaknya menargetkan kenaikan hingga 15 persen penggunaan alat kontrasepsi jangka panjang itu, setelah mencatat sebanyak 10.710 orang melakukan pemasangan IUD dan 37.870 orang memakai implan.(ADV/DR)
Pewarta :
Editor: Awi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
