Logo Header Antaranews Jogja

Yayasan Kebaya Yogyakarta rangkul jurnalis sampaikan pesan keberagaman

Selasa, 7 April 2026 20:04 WIB
Image Print
Pembina Yayasan Kebaya Yogyakarat Ruli Malay, dalam pertemuan stakeholder bersama jurnalis, di Yogyakarta, Selasa. ANTARA/Nur Istibsaroh

Yogyakarta (ANTARA) - Yayasan Keluarga Besar Waria Yogyakarta (Kebaya) merangkul puluhan jurnalis di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk memperkuat kolaborasi dalam menyampaikan pesan keberagaman serta mendukung pemenuhan hak-hak orang dengan HIV (ODHIV) dan kelompok transpuan.

"Kami melihat peran media sangat penting dalam merawat kestabilan pandangan arus utama terhadap kelompok keragaman gender. Media memiliki posisi strategis untuk memberikan narasi yang baik dalam konteks penerimaan," ujar Pembina Yayasan Kebaya Yogyakarat Ruli Malay, dalam pertemuan stakeholder bersama jurnalis, di Yogyakarta, Selasa.

Ruli menjelaskan langkah tersebut dilakukan guna memberikan perspektif luas bahwa kelompok transpuan bukan merupakan entitas yang terpisah, melainkan bagian integral dari masyarakat yang memiliki spiritualitas dan kontribusi nyata dari sejumlah sektor.

Keterlibatan aktif Yayasan Kebaya Yogyakarta dalam berbagai aksi kemanusiaan, lanjut Ruli, di antaranya mulai dari respons tsunami Aceh 2004, gempa Yogyakarta 2006, hingga penanganan pandemi COVID-19 melalui pengelolaan delapan dapur umum.

"Persepsi media bahwa kelompok keragaman gender itu bagian yang terintegrasi dari keluarga dan masyarakat sangat penting. Kami sudah biasa terlibat dalam gerakan perubahan dan respons kebencanaan," kata Ruli yang pernah menjadi guru SD selama 10 tahun ini.

Selain itu, lanjut Ruli, Yayasan Kebaya juga fokus pada pemberdayaan melalui Sekolah Smart Trans, sebuah sekolah inklusi yang melibatkan komunitas trans, ODHIV, hingga masyarakat umum seperti ibu rumah tangga dan pengajar.

Baca juga: Pemutaran perdana film "Sara" dijejali penonton

Terkait isu regulasi, Ruli berharap agar proses penyusunan peraturan di tingkat nasional maupun daerah senantiasa melibatkan berbagai komponen masyarakat dan berpihak pada aspek hak asasi manusia.

"Negara wajib hadir untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi aspek hak asasi manusia. Kami berharap mereka yang duduk di legislasi bisa memperjuangkan kemajuan peradaban bangsa yang inklusif," kata Ruli yang juga pernah menjabat sebagai anggota legislatif daerah ini.

Direktur Yayasan Kebaya Yogyakarta Vinolia juga menekankan pentingnya bagi jurnalis untuk mengenal lebih dalam profil komunitas agar memberikan pemahaman yang lebih baik akan menghasilkan karya jurnalistik.

Ia berharap sinergi dengan media dapat terus terjaga untuk menjadikan Yogyakarta sebagai contoh praktik terbaik dalam menjaga harmoni keberagaman di Indonesia

"Kami tidak mau ditulis LGBT, kami transpuan. Harapan kami para jurnalis tempatkan kami sebagai bagian dari kehidupan bukan penyimpangan atau penyakit. Tidak ada yang salah, selama kami melakukan hal positif," katanya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi juga tidak lagi mengklasifikasikan transgender (termasuk transpuan) sebagai penyakit mental atau gangguan jiwa, guna menghapus stigma dan diskriminasi.

Dalam kesempatan tersebut, Shinta Maharani, narasumber dari unsur media banyak berbagi pengalaman mengenai peliputan kelompok minoritas di sejumlah wilayah serta memberikan sejumlah tips penulisan.

"Saat wawancara jangan gunakan kalimat yang menyudutkan, misalnya jangan tanyakan bagaimana perasaan sebagai ODHIV," kata Shinta yang menegaskan bahwa dampak pemberitaan yang melanggengkan stigma dan diskriminasi bisa berakibat fatal.

Mengapa penting meliput isu HIV dan AIDS, lanjut dia, karena media massa punya peran memeranginya, alasan lainnya orang dengan HIV dan AIDS menghadapi stigma dan diskriminasi, sehingga perlu menentang marjinalisasi terhadap mereka.

"Ada tips singkat saat menulis yakni hindari menulis HIV sebagai vonis kematian, hindari menulis bahwa hanya kelompok minoritas gender dan seksual, termasuk LGBTIQ yang dapat terinfeksi HIV dan AIDS, karena heteroseksual juga bisa terindeksi, hindari mengungkap status HIV/AIDS seseorang tanpa persetujuan," katanya.



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026