Kulon Progo (Antara Jogja) - Warga rumah tangga sasaran di Pedukuhan Sidorejo Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menolak jatah beras miskin sebagai bentuk protes atas rencana pembangunan bandara internasional di wilayah setempat.

Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat Desa Glagah Eulis Yulianti di Kulon Progo, Selasa, mengatakan jumlah rumah tangga sasaran (RTS) di Desa Glagah sebanyak 217 kepala keluarga yang tersebar di sembilan pedukuhan.

"Dari sembilan pedukuhan itu, RTS di Pedukuhan Sidorejo sebanyak 25 KK. Mereka tidak mengambil jatah beras miskin (raskin) untuk bulan Mei. Kami kurang tahu alasan mereka menolak atau tidak mengambil raskin," kata Eulis.

Pemerintah Desa Glagah, lanjut Eulis, sudah mengundang mereka ke kantor desa untuk menanyakan alasan mereka tidak mengambil raskin. Namun mereka tidak bersedia datang dan hanya mewakilkan kepada dua tokoh warga dan kepala dusun Sidorejo.

"Warga tidak bersedia datang dan hanya berkumpul di sekitar rumah Dukuh Sidorejo. Dua tokoh warga yang bukan penerima raskin didampingi Dukuh Sidorejo akhirnya mewakili datang ke balai desa," kata dia.

Namun demikian, kata Eulis, warga Sidorejo masih diberi tenggang waktu hingga Jumat (23/5) untuk mengambil raskin di balai desa. Pihaknya telah mengoordinasikan belum diambilnya jatah raskin untuk Sidorejo tersebut ke Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans).

"Sesuai arahan kepala dinas, bila warga memang tidak mau menerima maka harus ada pernyataan hitam di atas putih. Kemudian karena itu kuota untuk Glagah, maka akan diberikan kepada warga lain yang masih membutuhkan, sesuai ketentuan," kata dia.

Salah satu tokoh Paguyuban Wahana Tri Tunggal (WTT) Sarijo membenarkan bahwa warga Dusun Sidorejo menolak raskin karena sakit hati atas rencana pembangunan bandara di Kecamatan Temon.

(KR-STR)